Ayah Mertua yang Diam-Diam Perhatian
Suamiku kerja di luar kota, pulang cuma dua minggu sekali. Rumah yang kami tinggalin itu rumah keluarga, jadi aku tinggal bareng ayah mertua. Papi — begitu aku biasa manggil.
Papi itu orangnya pendiem. Nggak banyak omong. Tapi perhatiannya halus. Kalau aku pulang telat, dia yang nyiapin makan. Kalau hujan, dia yang mastiin jemuran udah masuk. Kalau aku sakit, dia yang bikin teh jahe tanpa diminta.
Aku nggak pernah mikir aneh-aneh. Itu kan mertua. Udah kayak bapak sendiri.
Tapi lama-lama, aku ngerasa ada yang beda. Tatapan dia kalau aku lagi di dapur, agak kelamaan. Cara dia manggil namaku pelan banget, kayak nyimpen sesuatu. Cara dia canggung kalau kami cuma berdua di rumah.
Malam itu suamiku telpon, bilang dinasnya diperpanjang dua minggu lagi. Aku ngerasa sepi, duduk di ruang tamu, lampu remang. Papi dateng, duduk di sofa sebelah.
"Kangen?" tanyanya.
"Biasa aja, Pi. Udah sering."
"Tapi kamu keliatan capek. Bukan capek badan. Capek yang lain."
Aku nengok. Dia natap aku, dan untuk pertama kalinya aku ngerasa ditelanjangin sama tatapan yang selama ini aku kira tatapan bapak.
"Papi…"
"Papi cuma mau mastiin kamu nggak ngerasa sendirian. Itu aja."
Tapi waktu dia bilang gitu, tangannya pelan nyampe ke tanganku. Dan aku nggak tau kenapa aku nggak narik.
Hening lama. Cuma suara jam dinding. Aku ngerasain tangannya anget, kokoh, dan ada rasa aman aneh yang aku nggak mau akuin.
"Papi tau ini salah," bisiknya akhirnya. "Tapi Papi udah lama… ngerasa sesuatu."
Aku natap dia. "Papi…"
Dia angkat tanganku, cium punggung tanganku pelan. Satu ciuman yang bikin seluruh tubuhku merinding. Aku tau harusnya aku mundur. Aku tau ini salah. Tapi tubuhku nggak nurut.
"Kalau kamu mau Papi berhenti," katanya, "bilang aja."
Aku diem. Dan diemku itu jawaban.
Dia tarik aku pelan, dan kami nyatu dalam pelukan yang selama ini cuma bisa aku bayangin. Perhatiannya yang halus itu akhirnya nemu bentuknya. Dan aku, yang selama ini ngerasa sepi di rumah besar, nemu hangat yang nggak pernah aku dapet dari suamiku.
--- PART 2 ---
Hari-hari berikutnya jadi hari yang penuh rasa bersalah. Tapi juga penuh sesuatu yang bikin aku nggak bisa berhenti.
Papi nggak pernah maksa. Dia tetep pendiem, tetep halus. Tapi sekarang, perhatiannya jadi lebih dalem. Dia yang siapin sarapan tiap pagi. Dia yang anter jemput kalau aku pulang malem. Dia yang ada di sofa tiap aku butuh temen cerita.
Dan malam-malam, kalau rumah udah sepi, aku nemuin diriku di pelukannya.
Aku tau ini bakal meledak suatu hari. Suamiku bakal tau, atau aku bakal nggak tahan sama rasa bersalahnya. Tapi untuk sekarang, di rumah besar yang dingin itu, Papi satu-satunya yang bikin aku ngerasa hidup.
Komentar
Masuk buat komentar.