Ibu Tiriku yang Selalu Masak Favoritku
Ibu tiriku, Bu Rina, masuk ke hidupku waktu aku udah gede. Bukan ibu yang maksa, bukan ibu yang ngatur — dia datang pelan-pelan, bawa hangat yang udah lama nggak ada di rumah ini sejak mama pergi.
Dia selalu masak makanan favoritku. Nggak pernah ditanya, tapi dia tau. Dia selalu siapin teh pas aku begadang. Dia selalu dengerin kalau aku lagi butuh cerita.
Aku nyaman. Terlalu nyaman, mungkin.
Sampai aku sadar, kenyamanan itu mulai jadi sesuatu yang lain. Aku nyari dia waktu pulang. Aku nungguin suara langkahnya di dapur. Aku ngeliatin dia lebih lama dari yang seharusnya.
Aku tau ini salah. Dia istri ayahku. Tapi perasaan nggak bisa disuruh.
Malam itu, ayah lagi dinas. Cuma kami berdua. Dia masak sup kesukaanku, dan kami makan di meja yang cuma ketangkap lampu gantung.
"Kamu diem aja hari ini," katanya. "Lagi mikirin apa?"
Aku nggak bisa jawab jujur. "Capek aja, Bu."
Dia nengok, dan entah kenapa, di matanya aku ngeliat dia tau. Bukan marah. Bukan jijik. Cuma pengertian yang bikin aku makin bingung.
"Rina." Suaranya pelan. "Di rumah ini, panggil aku Rina."
Aku natap dia. "Itu… bukan yang seharusnya aku panggil."
"Tapi itu yang kamu mau, kan?"
Kalimat itu bikin aku beku. Dia berdiri, jalan ke arahku, dan berhenti di samping kursiku. Tangannya ngelus rambutku pelan.
"Aku juga ngerasa," bisiknya. "Udah lama. Dan aku capek pura-pura nggak."
Aku angkat muka. Dia natap aku, dan di matanya nggak ada ragu. Dia bungkuk, cium aku — pelan, hati-hati, kayak nunggu aku nolak. Tapi aku nggak nolak.
Malam itu, di rumah yang tadinya dingin, hangat itu akhirnya nemu jalan. Dan aku, yang selama ini cuma bisa nyimpen, akhirnya ngerasain apa artinya diinginkan balik.
--- PART 2 ---
Hubungan kami berubah, tapi nggak ada yang berani ngomong.
Dia tetep masak favoritku, tetep siapin teh, tetep dengerin. Tapi sekarang, ada tatapan yang lebih lama, sentuhan yang lebih sengaja, dan malam-malam kalau ayah dinas, aku tau di mana aku bakal berakhir.
Kami tau ini nggak bener. Tapi di rumah yang dulu cuma berisi sunyi, kami berdua nemu satu-satunya hal yang bikin semuanya kerasa hidup.
Dan untuk sekarang, itu cukup.
Komentar
Masuk buat komentar.