Kakak Tiriku yang Nggak Bisa Diam
Kakak tiriku, Dewi, itu orangnya nggak bisa diam. Sejak ayah nikah lagi sama mamanya, hidupku jadi kayak diawasin terus.
"Kok pulang malem? Makan dulu nggak?" "Baju kotor numpuk, kapan dicuci?" "Pacar kamu kok nggak pernah dateng? Serius nggak sih?"
Cerewetnya minta ampun. Kadang aku sebel, tapi lama-lama ya terbiasa. Dia emang begitu ke semua orang.
Sampai malam itu. Aku pulang larut, capek, dan dia masih bangun. Duduk di ruang tamu, pake piyama, rambutnya basah abis keramas.
"Kamu," katanya, "dari tadi ditungguin. Nggak ada kabar, nggak bales chat."
"Lagi males aja, Kak."
"Males sama aku?"
Bukan nada cerewet. Nada itu beda. Tersinggung. Aku berhenti, natap dia.
"Kak Dewi, kamu tuh kenapa sih ngurusin aku mulu?"
Dia diem. Terus, pelan, dia jawab, "Karena kalau nggak ngurusin kamu, aku nggak punya alasan buat deket sama kamu."
Aku kaget. Dia lanjut, matanya nggak lepas dari aku.
"Kita nggak sedarah. Kamu tau kan itu."
Aku tau. Cuma selama ini aku nggak pernah mau mikirin. Tapi malam itu, di ruang tamu yang remang, aku sadar cerewetnya selama ini bukan karena dia suka ngatur — tapi karena dia nyari celah, dengan cara satu-satunya yang dia tau.
Dia berdiri, jalan ke arahku. Tiap langkah, aroma samponya makin kerasa. Dia berhenti persis di depanku, deket banget.
"Kamu nggak pernah nyadar," bisiknya, "padahal aku udah keliatan banget."
Aku nggak bisa ngomong. Dia maju lagi, dan tiba-tiba bibirnya udah di bibirku. Ciuman yang nggak nunggu ijin — penuh rasa yang udah kesel banget ditahan.
Aku nanggepin. Dan itu yang dia tunggu. Tangannya naik ke rambutku, narik pelan, sementara aku dorong dia ke dinding.
Piyama tipis itu nggak nahan apa-apa. Aku ngerasain tubuhnya, anget, gemeter. Dia nggak kayak kakak lagi — dia cewek yang udah lama nunggu, dan malam itu dia dapet.
Kami pindah ke kamarnya. Dan cerewetnya nggak ada lagi. Yang ada cuma napas cepet, bisikan, dan suara yang nggak bisa ditahan.
--- PART 2 ---
Setelah malam itu, Dewi nggak berubah. Dia tetep cerewet. Tapi sekarang, cerewetnya ada lanjutannya.
"Makan dulu nggak?" tanyanya, terus kalau aku nggak jawab, dia nambah pelan, "Nanti aku yang suapin."
Dan itu bukan ancaman. Itu janji.
Kami mulai nyembunyiin sesuatu dari ayah dan mamanya. Ketawa-ketawa kecil di meja makan, senggolan kaki di bawah meja, tatapan yang kelewat lama pas lagi nonton bareng.
Aku tau ini rumit. Keluarga kami udah campur. Tapi malam itu, waktu dia nyender di bahuku dan bisik "kita atur aja pelan-pelan", aku nyerah. Sepenuhnya.
Komentar
Masuk buat komentar.