Kakak yang Selalu Jagain Aku
Kak Bagas itu kakak angkatku. Orang tua kami bersahabat, jadi sejak kecil kami dibesarin bareng. Dia lima tahun lebih tua, selalu jadi yang paling depan kalau aku lagi kena masalah.
Dari SD yang ngelindungin aku dari anak nakal, sampai SMA yang nemenin aku belajar sampe tengah malem. Dia kakak yang sempurna. Dan aku, lama-lama, sadar kalau aku nggak cuma ngeliat dia sebagai kakak.
Tapi aku pendem. Bertahun-tahun.
Sampai malam itu. Aku baru putus dari pacar yang nyakitin, dan kayak biasanya, dia yang pertama dateng. Bawa makanan, duduk di sampingku, nggak banyak ngomong — cuma ada.
"Kamu nggak salah apa-apa," katanya, suaranya tenang.
"Tau dari mana? Kamu belum denger ceritanya."
"Nggak perlu. Aku kenal kamu. Kamu nggak mungkin salahin diri kecuali orang itu yang bikin kamu ngerasa gitu."
Aku nengok. Dan tiba-tiba semua yang selama ini aku pendem mau meledak.
"Kak," suaraku gemeter, "kalau aku bilang ada orang yang selalu ada, yang bikin aku ngerasa aman, yang… aku sayang, dan dia bukan kakak kandungku… kamu bakal ngerti nggak?"
Dia diem lama. Matanya nyari sesuatu di wajahku.
"Aku selalu ngerti," akhirnya dia jawab pelan. "Dari dulu aku juga sama."
Ruangan itu hening. Aku nggak bisa napas. Lalu dia raih tanganku, dan untuk pertama kalinya, sentuhannya bukan sentuhan kakak yang jagain. Tapi sentuhan yang udah lama kami dua-duanya tahan.
Dia tarik aku pelan, dan aku nyungsep ke pelukannya. Pelukan itu lama, dalem, beda dari semua pelukan kakak yang pernah aku dapet.
"Aku nggak mau kehilangan kamu," bisiknya di rambutku.
"Kamu nggak bakal."
Dia angkat daguku, natap aku, dan pelan-pelan, dia cium aku. Ciuman pertama yang ngerubah segalanya. Ragu di awal, terus makin yakin, makin dalem, sampai aku nggak bisa bedain lagi mana detak jantungku mana detak jantungnya.
Dia rebahin aku di sofa, tangannya ngelus pipi, leher, turun pelan. Aku ngerasain kulitku merinding tiap dia sentuh, dan waktu dia buka satu-satu, aku nggak nolak. Justru aku bantu.
"Kamu yakin?" dia bisik, natap mataku.
"Udah bertahun-tahun aku yakin, Kak."
Dia cium aku lagi, dan kami nyatu. Pelan, dalem, penuh perasaan yang udah terlalu lama disimpen. Dia tau gimana bikin aku nyaman, gimana nunggu, gimana bisikin kata-kata yang bikin aku makin larut.
"Aku sayang kamu," bisiknya di kuping, di antara napas yang makin nggak karuan. "Bukan kayak kakak."
Dan aku sampe, sambil nyebut namanya, sambil ngerasain akhirnya semua yang aku pendem nemu jalannya.
--- PART 2 ---
Hubungan kami berubah. Tapi pelan, hati-hati, karena kami dua-duanya tau dunia nggak bakal langsung nerima.
Di depan keluarga, kami tetep kakak-adik. Tapi pas cuma berdua, semuanya beda. Dia jadi bukan kakak lagi — dia jadi tempat aku pulang, tempat aku ngerasa paling aman, dan tempat aku ngerasa paling diinginkan.
Dia masih jagain aku. Tapi sekarang, jagainnya beda. Ada sentuhan yang lebih dari sekadar kakak, ada tatapan yang bikin aku merinding, ada bisikan "kamu aman sama aku" yang artinya jauh lebih dalem.
Kami tau jalan ke depan nggak gampang. Tapi malam itu, waktu dia genggam tanganku dan bilang "kita lewatin bareng", aku percaya. Sepenuhnya.
Komentar
Masuk buat komentar.