CCTV Rusak di Ruang Meeting
Katanya cuma lembur ngerjain laporan. Tapi pas listrik kantor mati dan cuma kami berdua yang tersisa, laporan itu jadi alasan paling nggak penting.
Gue nggak pernah nyangka malam Jumat bisa berubah kayak gitu. Mulanya cuma lembur biasa, ngejar deadline laporan bulanan yang besok pagi harus udah di meja Pak Dirut.
Yang ikut lembur cuma gue sama Sinta, anak baru dari divisi finance. Dia udah dua bulan di kantor, selalu rapi, selalu sopan. Beda banget sama gue yang tiap hari cuma kemeja lusuh sama rambut yang nggak pernah keurus.
"Mas, ini angka di kolom C kok nggak sinkron sama rekap gue ya?" tanyanya sambil nunjuk layar laptop.
Gue deketin, ngeliat layarnya. Dan di situ gue nyadar, wangi parfumnya kecium. Wangi yang lembut, bukan yang nyengat. Gue berusaha fokus ke angka, tapi otak gue malah nyatet hal lain: bulu mata dia panjang, jarinya kecil, dan kerudungnya tadi melorot dikit nunjukin rambut yang kebanting rapi.
"Oh iya, ini kena double entry. Lo salah input di baris empat belas," gue nunjuk.
Dia manggut, terus ngerapiin. Kita lanjut kerja. Jam nunjukin setengah sepuluh malam. Gedung udah sepi, cuma lantai gue yang masih nyala.
Terus lampu mati.
Bukan cuma ruang meeting, satu lantai gelap total. Sinta reflek njerit kecil, tangannya nyangkut di lengan gue.
"Waduh, mati lampu?" gue ngeraba-ngeraba HP buat nyalain senter.
"Iya mas, takut," katanya, nadanya beda. Bukan lagi suara rekan kerja yang profesional, tapi suara cewek yang lagi butuh ditemenin.
"Tenang, bentar gue nyalain senter."
Pas senter nyala, gue nengok ke dia. Dan di cahaya remang itu, muka dia kelihatan lain. Lebih lembut. Bibirnya dikit kebuka, napasnya agak cepet karena kaget. Gue nggak sengaja natap lama.
"Mas..." dia manggil pelan.
"Hm?"
"Kita sendirian ya di sini?"
Pertanyaan itu simpel. Tapi nadanya bikin gue paham, dia juga sadar hal yang sama. Lantai kosong, listrik mati, dua orang lawan jenis, dan jam udah malam.
"Iya. Cuma kita."
Dia nggak jawab. Dia malah deketin kursi, duduk di sebelah gue. Bahunya nyentuh bahu gue.
"Gue boleh jujur nggak, mas?"
"Boleh."
"Gue dari dulu... sering liat mas."
Deg.
"Liat gimana?"
"Ya liat. Suka aja ngeliatin mas kerja. Mas fokus banget, serius. Itu... menarik."
Gue nelen ludah. Di kepala gue udah ribut: ini rekan kerja, ini kantor, ini salah. Tapi tangan gue nggak denger. Gue raih tangan dia, genggam pelan.
"Mas..." suaranya makin pelan, tapi dia nggak narik tangannya.
"Sinta, kita..."
"Ssstt." Dia nekan jari telunjuknya ke bibir gue. "Jangan mikir besok dulu."
Dan di ruang meeting yang gelap, dikelilingi kursi-kursi kosong sama layar laptop yang udah mati, gue ngelepas semua aturan yang selama ini gue jaga.
Gue deketin muka dia, pelan. Dia nutup mata. Dan pas bibir kita ketemu, gue ngerasa ada yang lepas dari dada gue. Ciuman pertama itu lembut, ragu, kayak dua orang yang sama-sama tau ini bakal jadi awal sesuatu yang nggak bisa ditarik lagi.
Tapi makin lama, makin nggak ragu. Tangannya naik ke leher gue, narik gue lebih deket. Lidahnya nyari, nggak sabar. Napas kita campur jadi satu.
"Mas..." dia bisik di sela ciuman, "di sini beneran nggak ada CCTV yang nyala?"
"CCTV mati pas listrik mati," gue jawab, jujur.
Dia ketawa kecil. "Bagus."
Itu kayak tombol yang gue tunggu. Gue tarik dia duduk di pangkuan gue. Kerudungnya gue lepas pelan, rambutnya tumpah. Gue cium lehernya, dan dia mendesah panjang.
"Mas, pelan-pelan..." tapi tubuhnya malah nempel makin erat.
Gue buka satu-satu kancing blazer dia. Kemejanya nyusul. Di kegelapan, kulit dia keliatan lebih putih, lebih mulus. Gue turunin kepala, cium tulang selangka dia, terus ke bawah.
"Ah..." desahnya. Tangannya nyangkut di rambut gue, nggak nahan, malah ngedorong gue makin dalam.
Aku lepas bra dia. Dan di situ, dengan cuma cahaya senter yang jatuh ke lantai, gue liat tubuhnya. Gue nggak bisa ngomong apa-apa selain kagum.
"Cantik banget," gue bisik.
Dia senyum malu, nutupin dadanya. "Jangan diliatin gitu dong."
"Justru harus diliatin."
Gue singkirin tangannya, gue cium. Dia kepalanya jatuh ke belakang, desahannya makin jelas, nggak ada lagi yang ditahan.
"Mbak, kita pindah ke sofa?"
"Ada sofa?"
"Di pojok, deket jendela."
Kita berdiri, setengah gelap. Dia lepas sisanya sendiri, dan gue lepas sisanya. Di ruang meeting yang biasanya buat presentasi sama rapat bosenin itu, sekarang cuma ada kita berdua, telanjang, saling natap.
"Mas, gue agak takut."
"Kenapa?"
"Bukan takut gitu. Takut... besok gue nggak bisa liat mas tanpa kepikiran ini."
Gue deketin, peluk dia. "Kalau gitu, jangan dibikin besok. Yang sekarang aja."
Dia manggut, terus naik ke sofa, narik gue.
Adegan selanjutnya pelan. Gue nikmatin tiap detiknya. Sentuhan, desahan, nama yang saling dipanggil pelan. Gue masuk ke dia dengan hati-hati, dan dia ngerintih, kukunya nyangkut di punggung gue.
"Mas... ya... di situ..." bisiknya, matanya setengah nutup.
Gue gerak pelan dulu, ngerasain dia. Dia makin lama makin basah, makin nyambut. Suaranya makin nggak ditahan, sampe akhirnya gue harus nutup mulut dia pelan biar nggak kedengeran sampe lorong.
"Mas, jangan berhenti..." dia narik tangan gue dari mulutnya, "biarin aja, nggak ada orang."
Dan gue percaya dia. Gue lepas semua tahanan. Gerakan gue makin cepet, makin dalem. Suara kulit ketemu kulit ngisi ruang meeting yang sunyi. Dia makin keras, sampe akhirnya tubuhnya menegang, dia narik gue erat, desahnya pecah.
Gue nyusul nggak lama. Kita dua-duanya nyerah ke kursi sofa, napas masih ngos-ngosan.
"Gila," gue cuma bisa ngomong itu.
Dia ketawa lemes, nyandar di dada gue. "Kapan-kapan lembur lagi, mas."
Kita berdua tau, malam ini nggak bakal bisa dilupain. Besok di kantor kita bakal pura-pura nggak kenal, pura-pura profesional. Tapi pas mata ketemu mata, kita berdua tau. Dan entah kenapa, itu malah bikin semuanya makin seru.
Komentar
Masuk buat komentar.