Dosen Pembimbing Nggak Datang, Pacar Satu Kelompok Datang
Bimbingan skripsi bareng pacar satu kelompok, tapi dosennya malah nggak dateng. Ruang bimbingan kosong, pintu kekunci, dan gue sama dia kejebak berdua.
Gue nggak pernah nyangka revisi bab tiga skripsi bakal berakhir kayak gini. Awalnya gue cuma mau bimbingan biasa. Tapi ya udah, semua kejadian karena dosen pembimbing kami tiba-tiba WA gue pagi itu.
"Pak dosen nggak bisa dateng, ada rapat mendadak. Kalian tetep masuk ruang bimbingan aja, nanti bahas sendiri revisi bab tiganya."
Gue baca pesan itu sambil nyeruput kopi sachet di kosan. Dada gue langsung nggak enak. Bukan karena skripsinya, tapi karena yang bakal dateng cuma satu orang: Rara, pacar gue sendiri, yang juga kebetulan satu kelompok skripsi.
Hubungan kami lagi aneh belakangan ini. Bukan berantem, tapi canggung. Sejak kami mulai pacaran setahun lalu, kami belum pernah bener-bener sendirian di tempat sepi. Paling-paling nonton di kafe, atau jalan kaki ke kampus bareng. Pegangan tangan iya, cium kening iya. Tapi lebih dari itu, belum pernah. Dan gue tau, di hati gue sendiri, ada rasa yang udah lama gue tahan-tahan.
Gue jalan ke kampus siang itu sambil mikirin banyak hal. Kami ketemu pertama kali di ospek dua tahun lalu, satu gugus, satu kelompok buat tugas semester satu. Dari situ gue udah ngerasa ada yang beda sama Rara. Dia cewek yang bisa ketawa lepas sampe perutnya sakit, tapi juga bisa diem mikirin temennya yang lagi susah. Waktu gue nekat nembak dia tahun lalu, gue udah siap ditolak. Ternyata dia nerima. Satu-satunya syarat dia cuma satu: gue nggak boleh ilang-ilangan kayak mantannya dulu. Sepele, tapi gue pegang sampe sekarang.
Jam dua siang gue sampe ruang bimbingan. Ruangannya di pojok lantai tiga, kecil, isinya meja panjang sama kursi-kursi kayu. Rara udah duluan duduk di ujung, ngecek laptop. Dia pake kemeja kotak-kotak yang kegedean, rambutnya dicepol asal, kacamata nangkring di batang hidungnya. Kelihatan banget dia baru bangun.
"Halo," gue manggil, sok santai.
Dia nengok, senyum kecil. "Sini. Pak dosen beneran nggak dateng?"
"Nggak. Rapat mendadak katanya." Gue duduk di sebelahnya. Bau sampo dia kecium, wangi melati. "Kita benerin bab tiga sendiri aja."
Dia manggut. Kita mulai ngerjain. Awalnya profesional, nunjuk-nunjuk layar, debat soal kerangka teori. Tapi makin lama, bahu kita makin deket. Kaki dia nyenggol kaki gue di bawah meja, dan dia nggak narik. Gue diem aja, pura-pura fokus, padahal jantung gue udah mulai deg-degan nggak karuan.
"Bab tiga lo ini yang masalah, variable-nya nggak nyambung," gue nunjuk.
"Emangnya gue nggak tau?" Dia manyun. "Lo bantuin dong, jangan cuma ngomentarin."
Gue geser laptop ke tengah, jadinya gue makin deket sama dia. Lengan gue nempel lengan dia. Gue ngerjain revisinya, dia nontonin. Sesekali dia nunjuk sesuatu, dan tangannya nemplok di tangan gue. Tangan dia anget, kecil. Gue nahan napas.
"Kenapa lo diem?" tanya dia tiba-tiba, natap gue.
"Kagak. Fokus nih."
"Lo kalau fokus, idung lo suka nggak karuan gitu."
Gue ketawa kagok. Dia juga ketawa. Terus hening. Cuma suara kipas angin di pojok ruangan yang muter pelan. Gue sadar, dari jarak sedekat ini, gue bisa ngeliat bulu mata dia yang panjang, bibir dia yang dikit kebuka, dan gue ngerasa ada sesuatu yang beda di ruangan itu.
"Rara," gue manggil pelan.
"Hm?"
"Lo makin cantik dari terakhir gue liat."
Dia kaget. Pipinya langsung merona. "Apaan sih, sok romantis."
"Nggak sok. Serius."
Dia nunduk, mainin ujung kemejanya. "Kita... jarang gini ya. Berduaan bener-bener."
"Iya." Gue nelen ludah. "Sebenernya gue... sering mikirin lo."
Dia nengok. "Mikirin apaan?"
"Nggak. Nggak usah dibahas." Gue gelagapan.
"Bang, jangan gantung." Dia deketin muka dia. "Mikirin apaan?"
Gue liat matanya. Di situ gue ngerasa semua jarak yang selama ini gue jaga, pelan-pelan runtuh. "Mikirin... gimana rasanya lebih deket sama lo. Bener-bener deket."
Dia nggak jawab. Dia cuma natap gue, lama. Terus pelan-pelan, dia gerakin tangannya, nyentuh pipi gue. Sentuhan itu bikin gue merem. Pas gue buka mata, muka dia udah sedeket ini, dan bibir dia nempel di bibir gue.
Ciuman pertama kami. Canggung di awal, terus nggak canggung lagi. Gue balas, narik pinggang dia. Dia ngerintih pelan di bibir gue, tangannya naik ke leher gue. Rasanya kayak semua yang gue tahan setahun ini tumpah sekaligus.
"Kuncinya udah gue kunciin," bisik dia di sela ciuman.
"Hah?"
"Tadi gue kunci pintunya. Biar nggak ada yang masuk."
Gue berhenti, natap dia. "Jadi dari awal lo udah niat?"
Dia nyengir. "Nggak tau. Ya... siapa tau butuh privasi."
Gue nggak bisa nahan ketawa. "Gila lo."
Terus kami lanjut. Gue lepas kemeja kotaknya pelan, satu kancing, dua kancing. Dia cuma pake tanktop di dalem. Kulitnya halus, anget. Gue cium leher dia, dia ngerengek, narik rambut gue. Tangan gue naik ke punggung dia, lepasin kaitan tanktop-nya.
"Pelan..." bisik dia, napasnya mulai nggak beraturan.
Tangan gue gemeteran pas lepasin kaitan tanktop-nya. Gue nggak tau ini gugup atau gimana, tapi setiap sentuhan bikin kepala gue pusing. Dia nolongin, narik tanktop-nya lewat kepala, terus dia nyium dagu gue, turun ke leher. Rasanya kayak digelitik sama api. Gue tarik napas panjang, ngerasain setiap lekuk badan dia yang nempel ke badan gue. Ini pertama kali gue ngeliat dia kayak gini, dan jujur, gue nggak bisa mikir apa-apa selain dia.
Gue baringin dia di meja bimbingan, di antara tumpukan kertas skripsi. Kertas-kertas itu jatuh berantakan, tapi kami nggak peduli. Gue buka celananya, dia angkat pinggul dikit, bantuin. Badan dia cuma ditutupin celana dalem tipis, dan gue bisa liat jelas dia udah siap.
"Lo yakin?" gue nanya, jidat nempel jidat dia.
"Udah lama gue nunggu lo nanya gitu," jawab dia, setengah nahan napas. "Dari semester tiga."
Kalimat itu ngebuat gue kehilangan sisa-sisa ragu. Gue lepas sisa baju dia, terus baju gue. Dia liatin badan gue, matanya redup, bibirnya kebuka. Gue turun, nyium perut dia pelan, bikin dia ngegidik. Terus makin turun, sampe dia ngerintih dan ngegigit punggung tangannya.
"Di situ... jangan berhenti..." bisik dia, suaranya pecah.
Gue lanjut sampe dia ngeliatin gue kuyup. Terus gue naik lagi, posisiin diri. Pas gue masuk, dia ngerintih panjang, kukunya nancep di punggung gue. Meja kayunya bunyi.
"Pelan... pelan dulu..." dia bisik di kuping gue, napasnya panas. "Sakit dikit."
Gue tahan, nggak gerak dulu. Gue cium kening dia, pelipis dia, sambil bisik, "Santai. Gue nggak kemana-mana."
"Gerak... pelan aja..."
Gue gerak pelan, dengerin ritme napas dia. Dia rangkul leher gue, nyium bahu gue, ngegigit dikit. "Lo enak banget..." bisiknya. "Jangan berhenti... di situ, iya... di situ..."
Ruangan itu kecil, jadi suara apa pun kepantulan. Suara napas kami, suara meja, suara kulit ketemu kulit. Gue makin cepet, dia makin keras, sampe akhirnya dia kaku, ngerintih panjang, ngerangkul gue sekenceng-kencengnya. Itu yang bikin gue ikutan. Gelombang panas nyebar dari perut sampe ke ujung kepala. Gue rebah di atas dia, dua-duanya ngos-ngosan.
Lama kami diem, cuma napas. Dia ngelus punggung gue pelan. "Gila," bisik dia.
"Skripsi kita gimana?" gue nanya, sengaja ngegoda.
Dia mukul bahu gue pelan. "Males ah. Besok aja."
Gue nolongin dia beresin baju, rapiin rambut dia yang berantakan. Kami duduk di kursi lagi, tapi kali ini dia nyender di bahu gue, dan gue ngerangkul dia. Kertas-kertas skripsi masih berserakan di lantai.
"Bang," dia manggil pelan.
"Hm?"
"Kita nggak akan canggung lagi kan, setelah ini?"
Gue nyium pucuk kepalanya. "Justru sebaliknya, Ra. Gue makin nggak bisa lepas dari lo."
Dia nyengir. Di luar, bel kampus bunyi, tanda kelas sore mulai. Tapi kami berdua nggak ada yang gerak.
Sebelum pulang, gue bantuin dia ngumpulin kertas-kertas skripsi yang berserakan. Dia nyusun, gue ngerapiin. Sesekali mata kami ketemu, terus dua-duanya nyengir kayak anak kecil yang abis nyolong jajan. Kami keluar dari ruang bimbingan bareng, gandengan tangan, padahal masih di kampus. Ada beberapa orang yang liat, tapi kami nggak peduli. Untuk pertama kalinya, gue ngerasa nggak ada yang perlu disembunyiin dari dunia.
Di ruang bimbingan yang kecil itu, di antara skripsi yang belum kelar, gue ngerasa dapet sesuatu yang jauh lebih penting daripada bab tiga: keyakinan kalau cewek di samping gue ini, emang bener-bener gue sayang.
Komentar
Masuk buat komentar.