Cersex Favorit Masuk
Cersex / Kakak Tiri

Kakak Tiriku yang Nggak Bisa Diam — Part 2 Part 2

Part 2: Setelah malam itu, Dewi nggak berubah. Dia tetep cerewet. Tapi sekarang, cerewetnya ada lanjutannya.

Setelah malam itu, Dewi nggak berubah. Dia tetep cerewet. Tapi sekarang, cerewetnya ada lanjutannya.

"Makan dulu nggak?" tanyanya, terus kalau aku nggak jawab, dia nambah pelan, "Nanti aku yang suapin."

Sekarang, kalimat kayak gitu bikin aku senyum sendiri. Dari yang tadinya aku kesel denger cerewetnya, sekarang aku malah nungguin tiap pagi.

Dan itu bukan ancaman. Itu janji.

Kami mulai nyembunyiin sesuatu dari ayah dan mamanya. Ketawa-ketawa kecil di meja makan yang cuma kami berdua yang tau artinya. Senggolan kaki di bawah meja. Tatapan yang kelewat lama pas lagi nonton bareng. Semua hal kecil yang cuma kita berdua yang ngerti.

Aku tau ini rumit. Keluarga kami udah campur. Ayah aku, mama dia.

Kalau ketauan, bukan cuma kami berdua yang kena. Ayah sama mama dia bakal ngerasa dibohongin, dan mungkin rumah ini nggak bakal pernah kerasa kayak rumah lagi. Itu pikiran yang sering ngehantuin aku di malem-malem. Kalau mereka tau, semuanya bisa berantakan. Ayah bakal marah, mama dia bakal kecewa, dan rumah yang udah mulai kerasa kayak rumah bisa hancur lagi.

Tapi makin hari, aku makin nggak peduli sama kerumitan itu. Karena makin hari, aku makin ngerasa Dewi itu bukan cuma kakak tiri. Dia orang yang paling ngerti aku di rumah ini.

Dia tau kapan aku butuh diem, kapan aku butuh digangguin.

Dia lebih ngerti aku daripada siapapun di rumah ini, bahkan mungkin lebih dari ayahku sendiri. Dia tau sebelum aku ngomong, dan itu yang bikin aku makin nggak bisa ngelepasin dia. Dia tau makanan kesukaan aku tanpa ditanya. Dia tau cara bikin aku ketawa pas aku lagi bete. Dia tau kalau aku pulang telat itu biasanya lagi banyak pikiran, bukan lagi main. Dan malam-malam, kalau rumah sepi, dia ada di pelukanku.

Kami jarang ngomong yang penting. Kadang cuma rebahan, dia nyender di dadaku, aku mainin rambutnya. Tapi justru di momen-momen diem kayak gitu, aku ngerasa paling deket sama dia. Nggak butuh kata-kata.

Kami ngembangin bahasa sendiri. Sekali dia ngeliat jam dinding, itu artinya 'jangan lama-lama, ayah mau pulang'. Sekali aku batuk pelan di meja makan, itu artinya 'ketemuan nanti malem di kamar'. Hal-hal kecil yang bikin kami ngerasa punya dunia rahasia yang cuma kami berdua yang tau.

Kadang aku mikir, gimana bisa orang yang dulu cuma kakak tiriku, yang cerewetnya bikin aku pengen nutup kuping, sekarang jadi orang yang paling aku butuhin.

Dulu aku ngira cerewetnya cuma ganggu. Ternyata itu caranya ngasih perhatian, dan aku baru nyadar setelah semuanya kelewat. Semua berubah pelan-pelan, tanpa aku sadar.

"Kamu nggak takut ketauan?" tanyanya suatu malam, di pelukanku, kepala di dadaku.

Aku diem sebentar, ngerasain berat pertanyaannya. Jujur, takut banget. Tapi aku nggak mau bikin dia makin khawatir, jadi aku peluk dia lebih erat, ngerasain hangatnya, sebelum akhirnya jawab pelan.

"Takut," aku ngaku. "Tapi lebih takut kehilangan kamu."

Dia angkat muka, natap aku. "Kamu tau kan, ini nggak gampang. Ayah kamu, mama aku…"

"Aku tau." Aku ngelus rambutnya. "Tapi kita atur pelan-pelan. Nggak usah buru-buru."

Dia tersenyum, nyender lagi. "Kamu makin pinter ngomong ya. Dulu mah bego."

"Ya karena dulu kamu cuma cerewet, nggak pernah bilang yang sebenarnya."

Dia nyubit lenganku. Tapi kali ini dia nggak langsung ketawa. Dia diem sebentar, natap aku, terus senyum pelan. 'Aku juga nyesel dulu nggak berani jujur. Kita buang waktu bertahun-tahun.' Kalimat itu bikin aku narik dia ke pelukan, ngerasain betapa berharganya momen ini.

Dia nyubit lenganku. "Bacot."

Tapi dia ketawa, dan aku ketawa, dan buat pertama kalinya, rumah itu nggak kerasa canggung. Justru kerasa kayak tempat yang bener.

Dia angkat muka lagi, natap aku lama, terus cium aku.

Ciumannya beda dari biasanya. Lebih tenang, lebih dalam, kayak dia mau mastiin aku ada di sini, bukan cuma lagi nafsu. Aku balik cium dia, dan kami pelan-pelan saling buka baju. Pelan di awal, terus makin dalem. Tangannya nyusurin dadaku, narik aku lebih deket. Aku balik cium dia, dan sebelum aku sadar, kami udah saling buka baju di atas kasur.

"Malam ini ayah sama mama nggak pulang," bisiknya, malu-malu tapi jelas.

Jadi kita nggak perlu takut ada yang denger. Dan dia bilang itu sambil nyingkapin selimut, ngajak aku masuk. Rumah yang biasanya rame suara orang, malam ini cuma punya suara kami.

"Lo udah ngerencanain ya."

"Jangan songong."

Aku ketawa, terus cium dia lagi. Aku rebahin dia, cium lehernya, turun pelan, nyusurin tiap lekuk tubuhnya yang udah aku hapal.

Aku pelanin, ngeliat reaksinya, nyesuain ritme. Dia tau banget apa yang dia mau, dan dia nggak malu minta. Tangannya narik rambutku pelan, ngarahin, dan desahannya jadi petunjuk buat aku. Aku makin tau tiap titik yang bikin dia gemeter. Dia mendesah, jarinya nyangkut di rambutku. Aku turun lagi, nyium perutnya, terus ke bawah, dan dia melengkung, pegang sprei.

"Kamu makin bisa aja," desahnya.

"Gurunya pinter."

Dia mau protes, tapi aku lanjut, dan protesnya berubah jadi desahan. Aku naik lagi, natap dia, dan masuk pelan. Dia narik napas panjang, dan kami gerak bareng, pelan di awal, terus makin dalem.

"Kamu punya aku," bisikku, "nggak peduli serumit apa."

"Aku tau. Aku juga."

Kami gerak makin cepet, makin kenceng, sampe suara kasur sama napas kami nyampur. Dia sampe duluan, nyebut namaku, dan aku nyusul, ngerem di pelukannya. Hening, cuma napas kami yang pelan-pelan normal.

Di luar, angin nyapu jendela. Aku ngerasain dia makin lemes di pelukanku, dan ada rasa tenang yang nggak bisa dijelasin.

"Serius," bisiknya, "kamu nggak bakal pergi kan?"

Aku natap dia. Matanya nyari kepastian, dan aku ngerasa ada beban yang dia pikul sendirian selama ini. Aku pegang wajahnya, cium keningnya, terus bisik pelan, 'Aku nggak ke mana-mana. Kamu bukan cuma kakak tiri buat aku.'

"Nggak bakal."

"Janji?"

"Janji."

Dia nyender ke dadaku, dan aku ngelus punggungnya pelan. Aku nggak tau ke mana ini bakal bawa kita. Tapi satu yang aku tau: aku nggak bakal biarin Dewi nyari alasan lagi cuma buat deket. Sekarang dia nggak perlu alasan.

Karena dia udah ada di sini. Dan aku nggak bakal lepas.

Malam itu kami ngobrol sampe subuh, ngerencanain gimana caranya bilang ke keluarga pelan-pelan. Nggak ada jawaban pasti, tapi ada satu hal yang jelas: kami bakal ngadepin bareng. Dan buat pertama kalinya, rumah ini kerasa kayak tempat aku mau tinggal selamanya.

← Semua cerita

Cerita lain yang mungkin kamu suka

Tante

Tante yang Suka Ngingetin — Part 2

7
Ibu Tiri

Ibu Tiriku yang Selalu Masak Favoritku — Part 2

7
Ayah Mertua

Ayah Mertua yang Diam-Diam Perhatian — Part 2

6
Tetangga

Tetangga yang Suka Motong Jalan — Part 2

6
Kakak

Kakak yang Selalu Jagain Aku — Part 2

7

Komentar