Cersex Favorit Masuk
Cersex / Tante

Tante yang Suka Ngingetin — Part 2 Part 2

Part 2: Sisa minggu itu jadi seminggu yang paling aneh dan paling bikin nagih dalam hidupku. Siangnya dia tetep cerewet, malemnya pintu kamarku selalu diketuk.

Sisa minggu itu jadi seminggu yang paling aneh dan paling bikin nagih dalam hidupku.

Siangnya dia tetep cerewet — "makan", "jangan malem", "ini jangan ditaruh sini" — tapi ada bedanya.

Sekarang, di balik tiap cerewetnya, ada sesuatu yang lain. Matanya nyari aku lebih sering, dan tiap kami papasan di rumah, ada ketegangan kecil yang nggak bisa disembunyiin. Ada tatapan yang lebih lama, sentuhan yang lebih sengaja, dan senyum kecil yang cuma muncul kalau kami lagi berdua.

Malemnya, pintu kamarku selalu diketuk pelan.

Dan aku selalu bangun duluan, nungguin ketukan itu, karena aku tau dia bakal dateng. Kadang aku pura-pura tidur biar dia yang masuk pelan-pelan, terus duduk di pinggir kasur dulu, ngeliatin aku. Tapi aku selalu gagal pura-pura, karena begitu dia deket, jantungku langsung kenceng.

"Aku nggak bisa tidur," katanya tiap kali, sambil berdiri di depan pintu pake daster, rambutnya kebuka.

Dan tiap kali, aku udah nungguin dia, ngerasa jantungku kenceng begitu denger langkahnya nyampe di depan pintu kamarku. Dan aku selalu tarik dia masuk.

Kami jadi nyaman sama ritme itu.

Ritme yang tadinya aneh lama-lama jadi hal yang aku tunggu. Siang dia cerewet, malem dia dateng. Dan tiap ketukan pintu, aku ngerasa jantungku langsung cepet. Dia cerita soal suaminya yang dulu, soal gimana dia ngerasa hidupnya kelar pas ditinggal, soal gimana dia nggak tau lagi rasanya diinginkan. Dan soal gimana aku — tanpa sengaja — bikin dia ngerasa hidup lagi.

Dia cerita panjang banget, sampe kadang matanya berkaca-kaca. Aku cuma dengerin, ngelus punggungnya, ngerasain betapa dalam lukanya.

Tiap ceritanya bikin aku makin ngerti kenapa dia bisa nekat kayak gini. Dia bukan lagi nyari sesuatu yang liar, tapi nyari alasan buat bangun tiap pagi. Dan pelan-pelan, aku sadar kalau yang bikin aku nggak bisa lepas bukan cuma fisiknya, tapi cerita-cerita kayak gini.

"Tante tau ini aneh," bisiknya suatu malam, kepala di dadaku. "Tapi Tante nggak nyesel."

"Aku juga nggak."

Dia angkat muka, natap aku. "Tapi seminggu lagi kamu balik ke kos."

Aku diem. Pertanyaan itu nusuk, karena jujur, aku belum siap mikirin hari aku harus pergi dari rumah ini.

Aku diem. Dia bener. Dan baru kali ini aku sadar, aku nggak pengen balik. Kos yang dulu aku rinduin sekarang kerasa jauh, kerasa dingin, nggak ada bandingnya sama hangat di rumah ini.

"Mita," kataku pelan, "aku nggak cuma mau seminggu."

Dia natap aku lama. "Maksud kamu?"

"Aku mau ini lanjut. Nggak cuma pas numpang."

Dia natap aku lama, nyari sesuatu di wajahku. Aku tau dia lagi mikir semua risiko yang bakal kami tanggung, dan aku juga tau dia pengen bilang 'iya' tapi takut.

Dia tersenyum, tapi matanya ragu.

Aku ngeliat ragu itu, dan aku tau dia lagi nimbang-nimbang. Jadi aku genggam tangannya lebih erat, biar dia ngerasa aku serius. "Kamu tau kan, orang bakal ngomong apa. Tante sama keponakan…"

"Aku nggak peduli." Aku genggam tangannya. "Aku nggak peduli omongan orang."

Dia diem lama. Terus, pelan, dia nyender lagi, dan bisik sesuatu yang bikin aku lega.

"Aku juga nggak peduli. Nggak lagi."

Kalimat itu keluar pelan tapi pasti, dan aku ngerasa ada beban yang lepas dari pundaknya. Dia akhirnya mutusin, dan aku tau keputusan itu nggak gampang buat dia.

Dia angkat muka, cium aku. Pelan di awal, terus makin dalem, penuh rasa lega yang baru aja dia akuin. Aku balik cium dia, dan kami nyatu lagi — kali ini beda, karena ada keputusan di baliknya, bukan cuma dorongan.

"Malam ini," bisiknya, "kamu punya aku sepenuhnya."

Kalimat itu bikin aku ngerasa ada tanggung jawab yang lebih dari sekadar nafsu. Dia nyerahin dirinya sepenuhnya ke aku, dan aku nggak mau nyia-nyiain itu.

Aku rebahin dia, cium lehernya, turun pelan ke dada. Dia mendesah, jarinya nyangkut di rambutku.

Aku buka daster itu, nyusurin tiap lekuk tubuhnya yang udah aku hapal. Dia tarik aku, dan aku masuk pelan, dalem, sambil natap matanya yang nggak lepas dari aku. Aku buka daster itu, nyusurin tiap lekuk tubuhnya yang udah aku hapal. Dia tarik aku, dan aku masuk pelan, dalem, sambil natap matanya yang nggak lepas dari aku.

"Aku sayang kamu, Mita," bisikku.

"Aku juga." Dia natap aku. "Dan itu yang paling nyeremin."

Kami gerak bareng, pelan di awal, terus makin cepet, makin dalem.

Dia natap aku terus, matanya nggak lepas, dan di situ aku ngerasa kami nyambung lebih dari sekadar fisik. Dia bisikin namaku, dan itu bikin aku makin dalem. Dia bisikin kata-kata yang bikin aku makin yakin ini bukan sekadar nafsu sesaat. Kami sampe hampir barengan, dan dia ngerem di pelukanku, napasnya berat.

Hening. Kami ngatur napas, dan dia nyender ke dadaku.

Di luar, rumah sepi, dan aku ngerasa aneh karena nyaman banget di tempat yang tadinya cuma numpang. Aku ngelus rambutnya, ngerasain dia makin lemes di pelukanku.

"Besok kamu pamit ya," katanya pelan.

"Iya."

"Tapi bukan berarti selesai."

Kalimat itu bikin aku lega. Karena buat dia, aku pamit bukan berarti hubungan kami berhenti. Dan aku juga ngerasa gitu.

Aku senyum. "Bukan."

Waktu seminggu itu selesai, dan aku harus balik ke kos, dia nggak nahan aku.

Pagi itu dia masakin aku sarapan terakhir, telor dadar kayak hari pertama. Kami makan diem, dan aku ngerasa ada yang aneh di dada. Kayak mau ninggalin rumah sendiri. Cuma pas aku pamit, dia peluk lama, dan bisik di kuping:

"Kos kosong lagi, kamu tau harus ke mana."

Kalimat itu sederhana, tapi artinya gede. Artinya ini nggak selesai. Artinya aku selalu punya tempat buat pulang, tempat yang selalu nunggu.

Aku nyengir. Kalimat itu sederhana, tapi artinya gede. Artinya ini nggak selesai. Artinya aku selalu punya tempat buat pulang, tempat yang selalu nunggu. Dan aku tau, begitu kos kosong lagi, aku bakal langsung ke sini.

Aku nyengir. "Selalu, Mi… Tante."

Dia nyubit pelan. "Sekali lagi panggil Tante pas lagi berdua, aku cerewetin kamu seharian."

Aku ketawa. Dia juga ketawa, meski matanya masih ragu. Dan di balik candaan itu, kami berdua tau ini bukan main-main lagi.

Aku ketawa. Dan aku tau, ini nggak bakal berhenti di seminggu itu.

Sambil jalan keluar, aku nengok ke belakang, dan dia masih berdiri di depan pintu, ngeliatin aku pergi. Aku nyengir, ngelambaikan tangan, dan dia balas pelan. Dan aku tau, aku bakal balik.

← Semua cerita

Cerita lain yang mungkin kamu suka

Ibu Tiri

Ibu Tiriku yang Selalu Masak Favoritku — Part 2

7
Kakak Tiri

Kakak Tiriku yang Nggak Bisa Diam — Part 2

5
Ayah Mertua

Ayah Mertua yang Diam-Diam Perhatian — Part 2

5
Tetangga

Tetangga yang Suka Motong Jalan — Part 2

5
Kakak

Kakak yang Selalu Jagain Aku — Part 2

7

Komentar