Cersex Favorit Masuk
Cersex / Tante

Tante yang Suka Ngingetin

Tante Mita itu adiknya papah. Umurnya tiga puluh delapan, janda, tinggal sendirian di rumah dua lantai yang selalu rapi. Aku numpang seminggu di sana karena kos lagi direnovasi.

Dari kecil, Tante Mita itu yang paling cerewet sama aku. "Kok kurus banget? Makan yang bener." "Jangan pulang malem-malem." Cerewetnya nggak ada habis.

Tapi tinggal serumah bikin aku ngeliat sisi lain dia.

Pagi pertama, aku kebangun karena bau masakan. Dia udah di dapur, pake daster, rambut dicepol asal. Masak telor dadar sambil nyanyi kecil. Aku ngeliat dari pintu, dan entah kenapa pemandangan itu bikin aku lama berdiri di situ.

"Mau ngelamun sampe kapan? Sini makan," katanya tanpa nengok.

Hari-hari berikutnya makin aneh. Dia sering banget nyentuh aku — bukan yang gimana-gimana, tapi lebih dari biasanya. Ngerapiin kerah bajuku, ngepel keringat di dahi, narik tanganku pas nyebrang. Sentuhan kecil yang dulu nggak pernah aku perhatiin, sekarang kerasa beda.

Puncaknya malam keempat. Aku pulang agak malem, dia masih bangun, nonton tv di ruang tamu, pake daster tidur yang bahannya halus banget.

"Kamu bau alkohol," katanya, natap aku tajam.

"Cuma dikit, Tante. Temen ulang tahun."

Dia berdiri, ambil handuk, nyodorin. "Mandi. Terus sini, Tante bikinin teh."

Waktu aku balik, teh udah di meja. Dia duduk di sofa, masih pake daster yang sama. Aku duduk di sebelahnya, jaga jarak.

"Tante," aku mulai, "makasih ya udah nampung aku."

Dia nengok, senyum tipis. "Kamu itu keluarga. Tante sayang sama kamu."

Kata "sayang" itu keluar beda. Lembut, tapi ada sesuatu di nadanya yang bikin jantungku loncat.

Dia ngelus rambutku. Pelan. "Kamu makin gede ya. Dulu masih bocah, sekarang udah…"

Dia nggak nyelesein kalimatnya. Tangannya berhenti di pipiku. Dan kami cuma saling pandang, di ruang tamu yang cuma ketangkap cahaya tv.

Aku yang tutup jarak itu. Ciuman kami pelan, ragu, kayak dua orang yang sama-sama tau ini salah tapi nggak bisa berhenti. Tapi ragu itu nggak lama. Dia nanggepin, dalem, dan tangannya narik aku lebih deket.

Daster itu tipis. Aku ngerasain tubuhnya lewat kain, anget, lembut. Dia naik ke pangkuanku, dan aku ngerasa dia — udah siap, udah lama nunggu.

"Tante," bisikku, antara minta ijin sama minta lebih.

"Mita," koreksinya pelan. "Di sini… panggil Mita."

Aku nurut. "Mita."

Dan nama itu keluar kayak kunci yang buka semuanya. Dia makin rapat, gerak pelan di pangkuanku, sementara tangannya buka kancing bajuku satu-satu.

Kami pindah ke kamarnya. Kasur yang rapi, bau parfum yang lembut. Dia rebah, dan di bawah cahaya remang, aku buka daster itu, liat tubuh yang selama ini cuma bisa aku bayangin.

Dia menarikku, dan aku pelan-pelan masuk. Dia narik napas panjang, kukunya nancepin punggungku, dan bisiknya di kuping bikin aku kehilangan akal.

"Pelankan… ya… aah… kamu tau nggak berapa lama Tante… Mita nunggu…"

Kami gerak, makin lama makin cepet, makin dalem. Dia nggak nahan suara, dan di rumah dua lantai yang sepi itu, cuma ada suara kami berdua.

--- PART 2 ---

Sisa minggu itu jadi seminggu yang paling aneh dan paling bikin nagih dalam hidupku.

Siangnya dia tetep cerewet — "makan", "jangan malem", "ini jangan ditaruh sini" — tapi ada bedanya. Ada tatapan yang lebih lama, sentuhan yang lebih sengaja, dan senyum kecil yang cuma muncul kalau kami lagi berdua.

Malemnya, pintu kamarku selalu diketuk pelan.

"Aku nggak bisa tidur," katanya tiap kali, sambil berdiri di depan pintu pake daster, rambutnya kebuka. Dan aku selalu tarik dia masuk.

Kami jadi nyaman sama ritme itu. Dia cerita soal suaminya yang dulu, soal gimana dia ngerasa hidupnya kelar pas ditinggal, soal gimana aku — tanpa sengaja — bikin dia ngerasa hidup lagi.

"Tante tau ini aneh," bisiknya suatu malam, kepala di dadaku. "Tapi Tante nggak nyesel."

"Aku juga nggak."

Waktu seminggu itu selesai, dan aku harus balik ke kos, dia nggak nahan aku. Cuma pas aku pamit, dia peluk lama, dan bisik di kuping:

"Kos kosong lagi, kamu tau harus ke mana."

Aku nyengir. "Selalu, Mi… Tante."

Dia nyubit pelan. "Sekali lagi panggil Tante pas lagi berdua, aku cerewetin kamu seharian."

Aku ketawa. Dan aku tau, ini nggak bakal berhenti di seminggu itu.

← Semua cerita

Cerita lain yang mungkin kamu suka

Ibu Tiri

Ibu Tiriku yang Selalu Masak Favoritku

4
Kakak Tiri

Kakak Tiriku yang Nggak Bisa Diam

3
Ayah Mertua

Ayah Mertua yang Diam-Diam Perhatian

3
Tetangga

Tetangga yang Suka Motong Jalan

1
Kakak

Kakak yang Selalu Jagain Aku

2
Selingkuh

Selingkuh di Balik Layar Meeting

2

Komentar