Cersex Favorit Masuk
Cersex / Kantor

Lembur Sampai Pagi Bareng Anak Magang — Part 2 Part 2

Part 2: Seminggu berlalu, dan "lembur" jadi kode rahasia kita. Tapi malam ini Dinda bilang mau ngasih kejutan — dan kejutan itu bikin gue sadar, dia nggak cuma anak magang yang diem.

Seminggu lewat, dan kata "lembur" itu pelan-pelan berubah arti buat gue sama Dinda. Dulu "lembur" artinya ngerjain kerjaan sampe tengah malem — ngopi, mata pedes, punggung pegel. Sekarang kata itu jadi sinyal. Kode. Cukup satu chat singkat, "mas, laporan lagi numpuk malem ini", dan gue udah tau artinya bukan soal laporan sama sekali.

Kita nemu banyak cara buat sembunyi. Ruang meeting kecil yang pintunya bisa dikunci. Pantry pas semua orang udah pulang. Kadang mobil gue di basement yang gelap dan jarang ada CCTV. Seminggu, gue udah hafal semua sudut kantor yang aman.

Tapi yang berubah bukan cuma tempatnya. Yang berubah itu Dinda.

Anak magang yang dulu diem-dieman, duduk paling pojok, cuma berani nunduk kalau ditegur — sekarang dia orang yang beda. Pagi-pagi pas rapat, dia bisa nyenggol kaki gue di bawah meja, terus lanjut nyatet kayak nggak terjadi apa-apa. Wajahnya datar, padahal ujung sepatunya masih nempel di betis gue.

"Lo sengaja ya," bisik gue sambil pura-pura fokus ngeliat slide.

"Nyatet, Mas," jawabnya, nggak nengok, tapi sudut bibirnya ketarik. "Jangan ganggu."

Kadang dia ngirim chat pas jam kerja, padahal mejanya cuma dua langkah dari ruangan gue. "Malem ini gudang arsip, jam 9." Gue baca, terus lirik dia dari balik layar. Dia lagi ketawa sama temen magangnya. Dia bisa selicin itu, dan nggak ada yang curiga.

Gue tau ini makin nggak bener. Kalau ada yang tau, bukan cuma karir gue yang tamat — nama dia juga. Anak magang ketauan main sama supervisor? Dia bisa dapet label jelek seumur hidup. Tiap malem gue tidur sambil mikirin itu. Tapi besok paginya, pas dia lewat di depan ruangan gue nyengir sambil nyodorin laporan, semua logika gue langsung leleh. Gue nggak bisa nolak dia. Dan makin ke sini, gue nggak yakin gue masih pengen nolak.

Malam itu dia bilang mau ngasih "kejutan".

"Kejutan apaan?" tanya gue lewat chat.

"Dateng aja. Ruangan lo. Jam sepuluh. Jangan nyalain lampu."

Gue nunggu sampe jam sepuluh lewat, pura-pura masih sibuk biar nggak keliatan aneh sama satpam. Pas lorong udah sepi, gue jalan ke ruangan gue, dorong pintunya pelan.

Lampu mati. Tapi nggak gelap beneran.

Di atas meja, ada lilin kecil nyala. Satu. Cahayanya goyang-goyang, bikin bayangan di dinding kayak lagi nari. Bau vanila nyebar pelan. Dan di ujung meja, nyilang kaki, duduk Dinda.

Dia pake kemeja gue.

Kemeja putih yang biasa gue gantung di belakang pintu. Di badan dia kebesaran banget. Lengennya kegulung tiga kali, ujung bawahnya nutupin paha. Dari bahunya keliatan, dia nggak pake apa-apa di dalemnya.

"Gue nemu ini di gantungan," katanya, senyum jahil, suaranya tenang. "Pinjem dulu ya. Gue rasa di badan gue lebih pas."

Gue nelen ludah. Nggak bisa ngomong.

"Lo berani banget," akhirnya gue bisa ngomong, sambil nutup pintu dan ngunci.

Dia turun dari meja, jalan ke arah gue pelan. Kemeja itu jatuh nutupin pahanya, dan tiap langkah, kerahnya kegeser ke samping — nyiapin bahu, sedikit dada. Gue berdiri kaku, jantung gue mau copot.

Dia berhenti persis di depan gue. Tangannya naik, narik dasi gue pelan, sampe gue kebawa merunduk dikit.

"Gue udah nunggu dari tadi, Mas." Suaranya rendah. Beda dari suara cempreng yang biasa gue denger di kantor. "Jangan bikin gue nunggu lebih lama."

Di titik itu, gue nyerah total. Dia yang pegang kendali malam itu, dan gue biarin.

Dia buka dasi gue pelan, natap mata gue terus. Jarinya cekatan, nggak buru-buru. Dia buka kancing kemeja gue satu-satu, dan tiap kancing kebuka, napas gue makin sesak.

"Mas deg-degan," bisiknya, telapak tangannya nempel di dada gue. "Kenapa? Gue serem ya?"

"Nggak." Suara gue serak. "Lo bikin gue gila."

Dia senyum, terus dorong gue pelan sampe gue jatuh duduk di kursi. Terus dia naik ke pangkuan gue, ngangkang, kemeja gue udah nggak nutupin apa-apa dari bawah. Pahanya anget. Dia genggam rambut gue, narik kepala gue ke belakang, terus cium gue.

Ciuman itu nggak kayak biasanya. Kali ini dia yang nuntun. Lidahnya nyari, nguasain, bikin gue cuma bisa ngikutin. Tangannya geser turun, buka ikat pinggang gue, resleting, dan gue ngerasain jarinya masuk, nyekel gue lewat celana dalem.

"Malam ini gue yang atur," bisiknya di kuping gue, napasnya anget. "Lo cuma boleh nikmatin. Nggak boleh gerak."

Gue ngangguk, setengah nggak sadar. Dia nahan pinggang gue, terus pelan-pelan dia turunin diri di atas gue. Sempit, panas, basah. Dia nggak mau cepet. Dia kendaliin semuanya, naik-turun pelan, matanya nggak lepas dari gue.

"Aah… Mas…" Suaranya pecah dikit. "Rasain gue…"

Tangannya nancepin bahu gue, kukunya dalem, tapi gue nggak peduli. Gue cuma bisa duduk, nyekel pinggangnya, ngerasain tiap gerakan dia. Lilin masih goyang, bayangan kita nempel di dinding, suara napas nyatu di ruangan sepi.

Dia makin cepet. Pinggangnya gerak, nahan, gerak lagi. Tiap kali dia turun, dia desah pelan di kuping gue, dan suara itu jadi candu. Gue pengen nyekel dia, narik dia makin dalem, tapi dia larang.

"Bilang gue nggak boleh gerak kan," bisik gue, sambil nahan.

"Pinter," jawabnya, napasnya ngos-ngosan. "Tetep diem."

Sampe akhirnya dia kenceng, tubuhnya melengkung, dan dia sampe duluan — kepala jatuh ke bahu gue, badannya gemeter. Gue nyusul nggak lama setelahnya, narik dia erat sampe dua-duanya kehabisan napas.

Hening. Cuma lilin yang masih nyala.

Tapi di tengah hening itu, ada momen yang beda. Dinda nggak langsung nyender kayak biasanya. Dia mundur dikit, natap gue, dan gue ngeliat sesuatu di matanya — di balik semua keberanian tadi, ada yang rapuh. Bukan malu. Lebih dalem dari itu.

"Mas," bisiknya, suaranya pelan banget. "Ini buat gue… bukan main-main, ya?"

Pertanyaan itu ngebuat gue diem. Berat. Lebih berat dari semua yang barusan kita lakuin.

Gue natap dia. Lilin di meja bikin matanya keliatan basah. Dan di situ gue sadar — selama ini gue sibuk mikirin bener atau salah, lupa mikirin apa yang sebenernya gue rasain.

"Bukan main-main," jawab gue, dan kali ini gue yakin. "Lo juga kan?"

Dia nggak langsung jawab. Dia cium gue. Pelan. Lembut. Beda dari semua ciuman kita sebelumnya — nggak ada yang nguasain, nggak ada yang buru-buru. Cuma dua orang yang akhirnya jujur.

"Ini buat gue udah jauh lebih dalam dari sekadar lembur," bisiknya di bibir gue.

Selesai, dia nyender di dada gue, napas masih ngos-ngosan. Kemeja gue masih nempel di badannya, udah berantakan.

"Gimana, Mas?" bisiknya. "Masih mikir gue anak magang yang pendiem?"

Gue ketawa, ngelus rambutnya. "Nggak. Sekarang gue mikir gue yang kena magang. Lo lulus dari mana ngajarin gue begini?"

Dia nyubit lengan gue pelan, terus cium gue lagi.

Tapi di luar ruangan itu, kenyataan pelan-pelan balik. Dua minggu lagi magangnya Dinda kelar, dia balik ke kampus, dan "lembur" nggak bakal punya arti yang sama lagi.

"Mas," katanya tiba-tiba, kayak bisa baca pikiran gue. "Dua minggu lagi magang gue selesai."

"Gue tau."

"Lo bakal lupa gue nggak?"

Gue natap dia lama. "Nggak mungkin, Din."

Dia diem, jarinya bikin pola di dada gue. Terus dia nyender lagi, suaranya kayak bisikan.

"Gue nggak mau ini berakhir pas magang kelar."

Dan di situ, gue sadar. Ini bukan lagi soal lembur, atau kejutan, atau adrenalin sembunyi-sembunyi di kantor. Ini udah jadi sesuatu yang gue pengen pertahanin — sesuatu yang bikin gue takut kehilangan.

"Gue juga nggak," kata gue.

Di luar, lantai kantor udah gelap total. Tapi di ruangan kecil yang cuma ketangkap satu lilin itu, dua minggu rasanya kayak dua hari yang nggak bakal cukup.

--- END PART 2 ---

← Semua cerita

Cerita lain yang mungkin kamu suka

Tante

Tante yang Suka Ngingetin — Part 2

6
Ibu Tiri

Ibu Tiriku yang Selalu Masak Favoritku — Part 2

7
Kakak Tiri

Kakak Tiriku yang Nggak Bisa Diam — Part 2

5
Ayah Mertua

Ayah Mertua yang Diam-Diam Perhatian — Part 2

5
Tetangga

Tetangga yang Suka Motong Jalan — Part 2

5
Kakak

Kakak yang Selalu Jagain Aku — Part 2

7

Komentar