Cersex Favorit Masuk
Cersex / Janda

Janda di Sebelah Rumah

Bu Rara pindah ke rumah sebelah setahun yang lalu. Janda, umurnya kepala tiga, masih enak dipandang. Aku sendiri anak kos, nyewa rumah petak di sebelahnya. Kadang papasan di gang, cuma salaman sopan, "Mau ke mana, Bu?", "Belanja dulu, Mas".

Aku suka bantu-bantu kalau dia butuh. Ganti lampu putus, dorong motor mogok, angkatin galon. Dia selalu masakin buat bales — kadang ngetuk pintu bawain seplastik sayur, atau satu tupperware rendang.

Hubungan kami ya begitu. Sopan. Tetangga.

Tapi aku nggak munafik. Bu Rara itu beda. Ada aura di dia yang bikin aku sering ngeliatin lebih lama dari seharusnya. Cara dia gerak di dapur pas aku bantuin benerin keran. Cara dia nunduk nyiram bunga. Cara dadanya naik-turun waktu dia keburu napas abis ngepel.

Malam itu mati lampu. Daerah kami emang sering. Aku duduk di teras, nikmatin angin, sambil liatin rumah-rumah gelap. Tiba-tiba ada suara langkah pelan.

"Mas Adit?"

Bu Rara berdiri di pagar, pake daster tipis, nyorot pake lampu HP. Wajahnya keliatan capek. Daster itu tipis banget, dan kena sinar lampu HP-nya dari bawah, jadi aku nggak sengaja ngeliat lekuk tubuhnya samar-samar.

"Masih ada lilin, Mas? Punya aku habis. Adikku belum pulang, rumah gelap banget."

Aku berdiri. "Ada, Bu. Sini."

Dia masuk, duduk di kursi teras sebelahku. Aku keluar ambil lilin sama korek, nyalain satu. Nyala lilin bikin bayangan nari-nari di wajahnya.

"Terima kasih ya, Mas. Aku jadi ngerepotin terus."

"Nggak apa-apa, Bu."

Kami diem sebentar. Cuma suara jangkrik sama angin. Bau tubuhnya — campuran sabun sama keringat tipis — kerasa ke aku karena jarak kami mepet.

"Mas Adit sendiri aja di rumah?" tanyanya pelan.

"Iya, Bu. Anak kos, ya sendirian."

Dia ketawa kecil. "Aku juga sekarang sendirian. Bedanya, Mas masih muda, aku udah tua."

"Bu Rara nggak tua."

Kalimat itu keluar begitu aja. Dia nengok, matanya nyari tatapanku di gelap.

"Kamu bisa aja."

Tangannya, yang tadinya di pangkuan, pindah ke lengan kursi — deket banget sama tanganku. Aku nggak yakin itu sengaja atau nggak. Tapi waktu jari kelingkingnya nyentuh punggung tanganku, aku nggak narik.

"Adit," panggilnya, suaranya berubah. Bukan suara "Bu Rara si tetangga" lagi. Lebih pelan, lebih ragu. "Kamu pernah mikir… kita ini kesepiannya sama?"

Aku nengok. Di sinar lilin, dia keliatan beda. Rentan. Jujur. Dan entah kenapa, justru karena itu dia makin menggoda.

Aku yang gerak duluan. Tanganku nutupin tangannya. Dia nggak narik — malah nggenggam balik, erat.

"Bu…"

"Rara aja." Bisiknya. "Malam ini… panggil aku Rara aja."

Aku ngangguk pelan. "Rara."

Dia narik napas panjang waktu aku nyebut namanya gitu. Lalu, tanpa aba-aba, dia sandarin kepala di bahuku. Aku ngerasain tubuhnya lemes, nyerah.

Aku cium rambutnya. Bau samponya enak. Dia makin nyender, dan tanganku — udah nggak bisa kutahan — naik ke pipinya, miringin wajahnya ke arahku.

Ciuman pertama kami pelan. Dua orang kesepian yang akhirnya nemu satu sama lain. Tapi pelan itu nggak lama. Dia nanggepin dengan lapar yang tersimpan lama, lidahnya nyari, tangannya narik leher bajuku.

Aku tarik dia ke pangkuanku. Daster tipisnya kegeser, nyampe paha. Kulitnya anget, dan aku bisa ngerasain dia pengen banget — dia yang gerakin pinggangnya, ngedeketin diri, ngos-ngosan di kupingku.

"Udah lama aku nggak…" dia nggak nyelesein.

"Aku pelan-pelan," bisikku.

Aku bawa dia masuk ke dalam. Rumah gelap, tapi aku udah hapal selak-beluknya. Aku rebahin dia di kasurku, dan di gelap yang cuma ketangkap cahaya bulan dari jendela, aku buka satu-satu.

Dia nggak nutupin diri. Justru dia yang narik tanganku, nuntun, sambil bisik-bisik "di sini… aah… jangan berhenti…". Tubuhnya yang udah matang itu nanggepin setiap sentuhan, melengkung, minta lebih.

Waktu aku masuk, dia nyebut namaku panjang banget, kuku nancepin punggung. Kami gerak pelan dulu, saling ngerasain, sambil dia bisik-bisik sesuatu yang bikin aku makin gila.

"Makin dalem… ya… di situ…"

Dan malam itu, di rumah gelap tanpa listrik, kami nggak butuh lampu. Cukup suara napas sama sentuhan.

--- PART 2 ---

Mati lampu jadi alasan kami buat ketemu. Tapi makin lama, kami nggak butuh alasan lagi.

Dia mulai ngetuk pintuku bahkan pas listrik nyala. Bawa masakan, alasan "kebanyakan, nggak habis sendiri". Dan tiap dia dateng, ujung-ujungnya kami berakhir di kasur.

Hubungan kami pelan-pelan nggak cuma soal itu. Dia cerita soal suaminya yang ninggalin dia sebelum sempat punya anak. Soal takut-takutnya buat mulai lagi sama orang yang lebih muda. Soal gimana dia ngerasa hidupnya cuma sisa nunggu.

Dan aku dengerin. Beneran dengerin.

Suatu sore, habis hujan, dia dateng bawa sup. Kami makan di teras, dan abis itu, dia natap aku lama.

"Adit," katanya, "aku tau ini nggak bakal gampang. Umur kita beda jauh. Tapi aku… aku nggak mau ini cuma jadi temen gelap."

Aku tarik tangannya. "Aku juga nggak."

Dia tersenyum, matanya berkaca. "Beneran?"

"Beneran."

Dan malam itu, bukan di kasur, tapi di ruang tamu — pelan, dalam, sambil kami saling bisikin masa depan yang masih remang tapi akhirnya kerasa mungkin.

← Semua cerita

Cerita lain yang mungkin kamu suka

Ibu Tiri

Ibu Tiriku yang Selalu Masak Favoritku

4
Kakak Tiri

Kakak Tiriku yang Nggak Bisa Diam

3
Ayah Mertua

Ayah Mertua yang Diam-Diam Perhatian

3
Tetangga

Tetangga yang Suka Motong Jalan

1
Kakak

Kakak yang Selalu Jagain Aku

2
Selingkuh

Selingkuh di Balik Layar Meeting

2

Komentar