Malam Pertama di Kos Baru
Kita udah pacaran setahun. Satu tahun yang isinya nahan-nahan. Pegangan tangan iya, pelukan iya, ciuman udah sering. Tapi lebih dari itu, selalu keburu mundur. Gue hormat sama dia, dan dia juga jaga diri.
Malem itu gue baru pindah kos. Dia dateng bantuin beres-beres, padahal gue cuma bilang "santai aja, besok juga beres". Tapi dia maksa, bawa makanan, dan akhirnya kita duduk di kasur yang masih ditutupin kardus pindahan.
"Kosan baru, kamar masih bau cat," katanya sambil nyengir.
"Tapi ada lo di sini, jadi nggak kerasa."
Dia nyubit lengan gue. "Gombal."
Tapi dia nggak minggir. Justru nyender, kepalanya di bahu gue. Kamar itu redup, cuma lampu tidur. Bau cat, bau makanannya, sama wangi sampo dia campur jadi satu.
"Lo capek ya?" tanyanya.
"Nggak. Lo?"
"Nggak."
Diem bentar. Terus dia angkat kepala, natap gue. Dan di mata dia ada sesuatu yang beda. Bukan main-main.
"Gue nggak mau pulang cepet hari ini."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi beratnya kerasa.
Gue ngelus rambutnya, dari dahi ke belakang telinga. Dia merem, bibirnya kebuka dikit. Gue cium dia — pelan, hati-hati, kayak takut dia berubah pikiran.
Tapi dia yang pertama bikin itu jadi lebih. Tangannya narik gue, dia geser ke pangkuan gue, dan ciuman kita makin dalem. Kardus-kardus di sekitar kita kayak nggak ada.
"Malem ini," bisiknya, "jangan berhenti."
Gue nggak berhenti. Tangan gue naik ke hem-nya, nyusurin kulit perut yang anget, dan dia ngerespon dengan narik napas gemeter. Gue buka kancing bajunya satu-satu, pelan, sambil cium lehernya. Dia miringin kepala, ngasih gue akses, dan suara napasnya makin cepet.
"Gue takut," bisiknya jujur, pas gue buka bra-nya. "Belum pernah…"
"Gue pelan," kata gue, natap matanya. "Kalau lo mau berhenti, bilang aja. Kapan aja."
Dia ngangguk, terus tarik gue buat cium lagi. "Gue mau. Gue cuma… grogi."
Gue rebahin dia pelan di kasur. Kasurnya masih bau baru, sprei belum dipasang, cuma ada selimut tipis. Tapi nggak ada yang peduli. Gue cium dia dari bibir, leher, dada, perut, makin turun, sementara dia makin nggak bisa diem, tangannya nyekel sprei.
"Aah… lo…"
Gue buka sisa bajunya, terus celananya. Dia telanjang di depan gue, dan pas mata gue ketemu matanya, dia nyengir malu.
"Jangan ngeliatin gitu," bisiknya.
"Kenapa? Lo cantik."
Gue masuk pelan banget. Dia ngejepit, tarik napas tajam, dan gue berhenti, nunggu.
"Sakit?" tanya gue.
Dia ngangguk dikit. "Sedikit… pelan ya…"
Gue pelan. Sangat pelan. Sambil cium dahi, bisikin "udah, pelan aja". Lama-lama dia rileks, dan gue mulai gerak. Sedikit demi sedikit, makin dalem, sampe dia ngelus punggung gue dan bisik "udah boleh cepet".
Dan di kos baru yang masih berantakan itu, kita ngerasain yang pertama kali. Canggung, gemeter, tapi jujur. Dia sampe duluan, matanya merem, napasnya nggak karuan, dan dia nyebut nama gue pelan banget.
Gue nyusul, dan habis itu kita ngos-ngosan, dia nyender di dada gue, jari dia bikin pola di lengan gue.
"Gue nggak nyesel," bisiknya. "Lo?"
"Nggak pernah."
Dia angkat muka, cium gue lembut. "Malem ini gue nggak pulang, ya."
Dan dia nggak pulang.
Komentar
Masuk buat komentar.